Hidup-Harus-Diperjuangkan

Oleh Andrie Wongso

Salah satu proses kehidupan yang menarik bagi saya adalah melihat seekor kupu-kupu yang hendak keluar dari kepompongnya. Yang lain, adalah ketika saya melihat ratusan telur penyu yang mulai retak, merekah, dan kemudian pelan muncul penyu dari telur tersebut. Begitu juga saat memperhatikan anak ayam yang berjuang keluar dari cangkang keras telur yang sebelumnya menjadi “sarang”-nya. Sungguh, sebuah keajaiban alam yang luar biasa.

Bagi saya, hal-hal tersebut memberikan pelajaran tentang kehidupan, yang sangat berarti. Salah satunya, bahwa hidup harus diperjuangkan. Jika makhluk mungil nan lemah itu saja bisa berjuang demikian hebat untuk “berhak” hidup, seharusnya kita pun memiliki daya juang yang jauh lebih hebat.

Ada 3 pelajaran lain yang bisa kita ambil dari proses kehidupan di atas. Pertama, kita berawal dari kondisi yang lemah. Artinya, kita sebenarnya terlahir dalam kondisi yang serba-terbatas, serba-minim, serba-nol. Penyu yang lahir dari ratusan biasanya hanya beberapa yang bertahan. Anak ayam pun tanpa dipandu induknya, kadang masih sangat kesulitan. Apalagi kita sebagai manusia, tanpa orang lain—terutama orangtua—kita belum bisa apa-apa. Artinya, dalam proses awal netes tersebut, kita seharusnya sadar, bahwa kita tak bisa berkembang tanpa orang lain. Kita tak bisa maju tanpa bantuan dari sekitarnya. Kita tak akan jadi apa-apa, kalau tak ada siapa-siapa. Jika mengingat hal tersebut, seharusnya kita bisa terjauhkan dari sikap sombong atau meremehkan yang lain.

Kedua, ada proses panjang yang melatarbelakangi dari setiap kejadian. Sebelum jadi kupu indah, ulat harus terpekur sekian lama dalam kepompongnya. Kita pun rata-rata berada dalam kandungan selama 9 bulan 10 hari. Artinya, sebenarnya kita harus selalu mengingat, bahwa setiap kejadian pasti memerlukan proses. Tak ada kejadian yang serba-instan. Kalau pun terkesan cepat dan kilat, pasti sebenarnya ada proses cukup lama yang melatarbelakanginya. Di sini, proses netes mengajarkan kita untuk selalu mengutamakan proses daripada hasil. Artinya, kita sedari awal sesungguhnya sudah “disodori” skenario Sang Pencipta, bahwa kita sejatinya adalah makhluk yang berproses. Tak ada kaya yang jatuh dari langit, tak ada makan siang yang gratis, tak ada hasil tanpa perjuangan. Dengan mengingat hal tersebut, sepantasnyalah kita bisa lebih “menikmati” setiap kondisi yang kita alami.

Ketiga, lihatlah bagaimana proses menetas terjadi. Ada sebuah perjuangan yang luar biasa sebelum kita tercipta menjadi makhluk seperti sekarang. Kupu-kupu harus keluar sendiri dari kepompongnya. Begitu juga penyu dan ayam. Sebagian dari kita juga langsung diajarkan “kemandirian” dengan “dibiarkan” mencari sumber makanan dari ibunya, melalui proses menyusu. Mungkin, terkesan akan lebih mudah jika ada yang membantu semua proses itu terjadi. Tapi sesungguhnya, justru “kemandirian” dan perjuangan itulah yang menjadi bekal hidup kelak yang sangat luar biasa. Dari proses menetas ini, kita disiapkan jadi “sang pejuang” yang seharusnya siap menghadapi berbagai ujian dan kesulitan.

Sadari, sejatinya kita sudah dilengkapi dengan bekal hidup yang luar biasa sejak awal. Melalui “kreasi” Sang Maha, kita sebenarnya sudah disiapkan untuk menjadi insan-insan terbaik dalam kehidupan ini. Sebab, tak ada satu pun makhluk yang tercipta tanpa tujuan. Tak ada makhluk apa pun yang tercipta tanpa manfaat. Hanya saja, butuh kesadaran, kemauan, dan perjuangan untuk menjadikan semua hal tersebut nyata dan menjadi kekuatan.

Mari, terus berjuang, terus asah bakat, perkuat tekad, dan bangun potensi diri. Success is My Right!!!